Apr 4, 2013

PERBANKAN INDONESIA






Bank mulai mengerem kredit sektor Pertambangan perbankan sudah memproyeksikan terjadinya peningkatan risiko kredit di sektor komoditas. Perbankan  memilih konservatif dalam penyaluran kredit baru ke sektor pertambangan akibat meningkatnya risiko kredit disektor tersebut sedangkan untuk perkebunan sawit perbankan belum melihat peningkatan risiko meski tetap memilih untuk selektif dalam membiayainya.
            Dalam catatan Bank Indonesia (BI), terjadi peningkatan kredit bermasalah (NPL) bank umum di sektor pertambangan dari 0,34% di 2011 menjadi 1,24% tahun lalu. Kinerja NPL terburuk dicatatkan bank pembangunan daerah dengan NPL 4,3% diikuti bank umum swasta nasional (BUSN) devisa dengan 2,5%  dan BUSN nondevisa 2,12%. dilapangan belum terlihat adanya permasalahan pada kredit di sawit dan batu bara. Saat ini harga CPO berkisar US$800-US$900 per ton. Semester kedua 2013 harga CPO bisa tembus US$1.000 per ton. Sementara itu, permintaan tahun ini bakal meningkat 9% dari total volume ekspor CPO 2012 sebesar 16,5 juta ton.
            Pemerintah berjanji untuk konsisten melanjutkan program hilirisasi mineral dan batu bara (minerba) melalui pembangunan industri pengolahan dan pemurnian (smelter). Namun, pemerintah diminta menyiapkan insentif dan membangun infrastruktur untuk menciptakan nilai keekonomian bagi industri pertambangan guna mempercepat pembangunan smelter. Menurut Dirjen Minerba Kementrian ESDM Thamrin Sihite, pemerintah siap memfasilitasi permintaan insentif yang diajukan pengusaha yang ingin membangun smelter. Penggunaan APBN untuk membangun smelter itu paling hanya memerlukan US$1,5 miliar, bisa dalam bentuk penyertaan modal pemerintah.
            Sedangkan Di sektor Hortikultura butuh revisi aturan kredit, Ketua Dewan Holtikultura Indonesia Benny Kusbini menilai kecilnya kredit hortikultura lantaran banyaknya peraturan kredit yang tidak sesuai dengan sektor ini. Salah satunya ialah sistem pengembalian pinjaman yang tidak memperhatikan pola tanam. Pelaku usaha kecil dan menengah lebih susah dapat kredit. Mau pinjam Rp 100 juta harus punya nilai agunan Rp 150 juta, kalau pelaku usaha skala besar cuma butuh personal guarantee. Mindset ini harus diubah. Dan apabila penyaluran kredit tersebut untuk investasi estate tanaman hortikultura, bukan hanya meningkatkan produksi dan mengurangi impor, melainkan juga produk hortikultura Indonesia mampu berkompetisi dengan produk luar.
            Sikap Perbankan mengerem penyaluran kredit kesektor komoditas bukannya tanpa alasan. Ekonom Universitas Indonesia David Sumual mengatakan perbankan sudah memproyeksikan terjadinya peningkatan risiko di sektor tersebut. Pasalnya, kondisi ekonomi global belum juga membaik. “ Amat mungkin mereka sudah mengurangi pemberian kredit ke sektor komoditas. 


SUMBER : MI Media Indonesia 2 April 2013

Apr 2, 2013

PERBANKAN INDONESIA

PERBANKAN INDONESIA











        Bank mulai mengerem kredit sektor Pertambangan perbankan sudah memproyeksikan terjadinya peningkatan risiko kredit di sektor komoditas. Perbankan  memilih konservatif dalam penyaluran kredit baru ke sektor pertambangan akibat meningkatnya risiko kredit disektor tersebut sedangkan untuk perkebunan sawit perbankan belum melihat peningkatan risiko meski tetap memilih untuk selektif dalam membiayainya.

         Hal itu dilakukan PT. Bank Negara Indonesia (BNI) yang tahun ini tidak mengucurkan kredit ke sektor pertambangan batu bara. "BNI tahun ini hanya membiayai kredit komoditas Minyak sawit (CPO), khususnya melayani nasabah lama yang fokus pada pemenuhan kebutuhan di dalam negeri," ujar Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo di jakarta, kemarin.

       Direktur Wholesale Banking PT. Bank Permata Tbk. Roy Arfandy mengatakan bahwa Banknya tahun ini sangat selektif dalam menyalurkan kredit ke sektor komoditas, terutama pertambangan batu bara.meski begitu,untuk CPO ia menegaskan perusahaannya masih melakukan pembiayaan." Kami juga cukup selektif dalam menyalurkan kreditnya (pertambangan), prioritas kami berikan kepada existing customer dan bukan untuk proyek yang bersifat greenfield,"ujar Roy.

        Hal senada juga diungkap Direktur utama PT. Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja. Bank swasta terbesar itu masih konsisten membiayai perkebunan sawit. akan tetapi, BCA memilih konservatif untuk batu bara. " Harga batu bara yang naik turun ini sulit dikendalikan. jadinya perusahaan tak banyak masuk ke sana tahun ini." ujarnya.

     Kendati begitu, Sekretaris Perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Muhamad Ali menuturkan bahwa di lapangan belum terlihat adanya permasalahan pada kredit di sawit dan batu bara. Meski dia mengakui fluktuasi harga keduanya tetap menjadi perhatian BRI. Untuk itu BRI menyiapkan langkah antisipatif seperti pengawasan lebih ketat dan penyiapan skema restrukturisasi kredit.

      Ekonom Universitas Indonesia David Sumual mengatakan bahwa perbankan sudah memproyeksikan terjadinya peningkatan risiko sektor tersebut. Pasalnya, kondisi ekonomi Global belum juga membaik."Amat mungkin mereka sudah mengurangi pemberian kredit ke sektor komoditas, khususnya pertambangan,"katanya.

        Dalam catatan Bank Indonesia (BI), terjadi peningkatan kredit bermasalah (NPL) bank umum di sektor pertambangan dari 0,34% di 2011 menjadi 1,24% tahun lalu. Kinerja NPL terburuk dicatatkan bank pembangunan daerah dengan NPL 4,3% diikuti bank umum swasta nasional (BUSN) devisa dengan 2,5%  dan BUSN nondevisa 2,12%. dilapangan belum terlihat adanya permasalahan pada kredit di sawit dan batu bara. Saat ini harga CPO berkisar US$800-US$900 per ton. Semester kedua 2013 harga CPO bisa tembus US$1.000 per ton. Sementara itu, permintaan tahun ini bakal meningkat 9% dari total volume ekspor CPO 2012 sebesar 16,5 juta ton. 


Sumber : MI Media Indonesia / wesly@mediaindonesia.com 02/04/2013