Tugas Kuliah
BRI
Terbitkan Obligasi Global Berbunga Terendah
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk
(BBRI) telah sukses menerbitkan senior unsecured bonds senilai 500
juta dollar AS. Obligas global tersebut memiliki fixed rate coupon sebesar
2,95 persen, terendah di pasar internasional.
Sekretaris Perusahaan BRI Muhamad Ali mengatakan
obligasi global ini memiliki jangka waktu lima tahun, yang telah diterbitkan
sejak 28 Maret 2013. Obligasi ini diterbitkan kepada investor-investor institusional
berdasarkan Regulation S. "Dengan kupon yang terendah di antara semua
obligasi dalam mata uang dollar AS yang diterbitkan oleh perusahaan Indonesia
di pasar oblogasi internasional ini mencerminkan bahwa fundamental keuangan BRI
kuat," kata Ali dalam siaran pers di Jakarta, Minggu (31/3/2013).
Selama masa penawaran, BRI telah menerima pesanan
dari 165 investor dengan nilai yang mencapai 2,65 miliar dollar AS atau
terdapat kelebihan permintaan (oversubscribed) sebanyak 5,3 kali.
Sehingga Obligasi tersebut dapat ditawarkan dengan imbal hasil 3,125 persen
atau 25 basis poin dibawah panduan penawaran harga awal.
BRI akan menggunakan dana bersih yang dihasilkan
untuk keperluan pendanaan umum serta memperkuat struktur pendanaan BRI.
Obligasi ini memperoleh rating Baa3 dari Moody's dan BBB- dari Fitch
serta akan dicatatkan di Singapore Stock Exchange pada tanggal 2 April 2013.
BRI menunjuk Citigroup Global Markets Limited dan Standard Chartered Bank
sebagai Joint Bookrunners dan PT Bahana Securities sebagai co-manager
untuk menangani penawaran obligasi tersebut.
Sumber : kompas.com 31 /03/2013
Kuartal I, IHSG Bersinar
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan ini mengalami kenaikan
217,83 poin (4,61 persen). Kenaikan IHSG diprediksi karena membaiknya
perekonomian global. Akhir pekan ini merupakan pekan terakhir kuartal I
tahun 2013 dan menjadi tonggak perjalanan IHSG untuk menuju target
tertingginya di level 5.000.
Analis Trust Securities Reza
Priyambada mengatakan jelang libur Jumat Agung, IHSG berhasil mencapai
posisi tertinggi terbarunya di level 4.940,99. Kondisi tersebut ditopang
oleh musim laporan keuangan untuk periode 2012 yang mulai direspon
positif oleh pasar.
"Apalagi di tingkat global juga mulai
mereda terkait kekhawatiran krisis di Cyprus. Hal itu juga mendorong
kenaikan IHSG, meski sempat diselingi dengan aksi ambil untung (profit
taking)," kata Reza, di Jakarta, Minggu (31/3/2013).
Di sisi
lain, kenaikan IHSG juga ditopang oleh adanya transaksi jumbo PT
Matahari Departemen Stores Tbk (LPPF) yang mengakibatkan Bursa Efek
Indonesia (BEI) harus menyesuaikan nilai penutupan IHSG. Adanya
transaksi tersebut mendekatkan IHSG pada level 4800-an sehingga
memberikan amunisi baru untuk IHSG melenggang ke level tertinggi
berikutnya.
Apalagi, sentimen ini terjadi setelah IHSG menutup
gap sebelumnya (4.721-4.735) yang sempat terbentuk dengan memanfaatkan
berita negatif ketika Cyprus dan Troika belum mencapai kesepakatan bailout.
Kenaikan IHSG juga diikuti dengan menghijaunya indeks utama lainnya
yang dipimpin oleh indeks DBX 5,46 persen. Lalu, diikuti dengan LQ45
(4,76 persen), IDX30 (4,74 persen) dan JII (4,71 persen) serta lainnya
yang juga menghijau.
Hijaunya IHSG membawa dampak positif pada
laju mayoritas indeks sektoral dengan kenaikan terbesar pada indeks
perdagangan (5,52 persen), konsumer (5,37 persen), manufaktur (4,89
persen) dan lainnya. Pekan depan, IHSG akan bergerak di level support
4.689-4.815 dan resisten 4.960-4.983. Namun pelaku pasar juga harus
mewaspadai risiko pembalikan arah, mengingat kembali berhasilnya IHSG
cetak level terbarunya.
"Secara psikologi saat IHSG mencetak
level baru maka membuat banyak orang khawatir terjadinya pelemahan dan
pelaku pasar ini akan cenderung profit taking. Ini yang harus
diwaspadai," tambahnya.
Namun, kata Reza, selama rilis
data-data makro cukup mendukung maka IHSG pun akan mencoba bertahan di
zona hijaunya meski masih terdapat gap di 4.786-4798. Reza menyarankan
agar pelaku pasar mencermati sektor industri dasar, konsumer, properti,
aneka industri dan manufaktur.
Sumber : Kompas.com 31/03/2013
Laba Bersih BNI Tembus Rp 7 Triliun
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatatkan laba bersih
sepanjang 2012 sebesar Rp 7,1 triliun atau naik 21 persen dibandingkan
pencapaian 2011 sebesar Rp 5,81 triliun. Kenaikan laba ditopang oleh
operasional perseroan.
Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo
menjelaskan, pendapatan bunga bersih perseroan naik 17,1 persen dari Rp
13,2 triliun menjadi Rp 15,5 triliun. Sementara pendapatan nonbunga naik
11,1 persen dari Rp 7,6 triliun menjadi Rp 8,4 triliun.
"Sumber utama pertumbuhan pendapatan nonbunga adalah provisi dan komisi. Dengan kedua penyangga tersebut,
operating income BNI mampu menembus pertumbuhan 14,9 persen menjadi Rp 23,9 triliun," kata Gatot di kantornya, Jakarta, Kamis (28/2/2013).
Gatot
menegaskan, dari sisi kredit, perseroan mencatatkan kenaikan 22,8
persen dari Rp 163,5 triliun menjadi Rp 200,7 triliun. Sekitar 74 persen
dari total kredit disalurkan ke sektor produktif, baik pada segmen
korporasi, menengah, kecil, internasional, maupun ritel.
Meski
semua portofolio kredit perseroan mengalami kenaikan, rasio kredit
bermasalah (NPL) perseroan mengalami penurunan dari 3,6 persen menjadi
2,8 persen.
Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) mengalami
kenaikan 11,4 persen menjadi Rp 257,7 triliun. Dana murah sendiri
mengalami kenaikan 16,6 persen dari Rp 148 triliun menjadi Rp 172,6
triliun.
Peningkatan rasio CASA dan lonjakan nominal dana murah
itu tidak terlepas dari tumbuhnya jumlah nasabah tabungan/ Taplus BNI,
yang ditunjukkan dengan jumlah rekening yang meningkat dari 13,3 juta
rekening pada 2011 menjadi hampir 15 juta rekening pada akhir tahun
2012. Tabungan masyarakat di BNI melonjak dari Rp 81,4 triliun pada 2011
menjadi lebih dari Rp 100 trilliun, atau tepatnya Rp 100,1 triliun pada
akhir 2012.
Dari sisi rasio lainnya tercatat, rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 16,7 persen.
Net interest margin (NIM) mampu dijaga di level 5,9 persen,
loan to deposit ratio (LDR) naik dari 70 persen menjadi 78 persen.
Coverage ratio,
atau cadangan yang dibentuk untuk mengantisipasi memburuknya pinjaman,
meningkat dari 120 persen menjadi 123 persen. Begitu pula dengan
return on asset (ROA) yang di tahun 2012 tercatat 2,9 persen, dan
return on equity (ROE) tercatat 20,0 persen.
Sumber : kompas.com 31/03/2013